Selasa, 04 Desember 2012

Makalah PKn Ke-SD-an


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Setiap manusia di dunia ini bekerja, melakukan aktivitas dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan merupakan hal utama yang harus dipenuhi manusia. Selain itu, kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersier yang menunjang kepuasan pun terus diusahan manusia. Terlebih di era yang serba modern dan instan ini, semua orang ingin kebutuhannya terpenuhi dengan apik serta mewah. Manusia semakin selektif dalam memilih apa-apa yang terbaik untuk mereka. Mereka tidak segan melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya atau malah cenderung egois dan mengesampingkan kepentingan orang banyak.
Kebutuhan manusia yang meningkat di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, sosial dan lain-lain memaksa pemerintah untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Seperti pada masalah ekonomi, pemerintah sering membuat kebijakan ekonomi untuk meminimalkan beban rakyat akibat ketidakstabilan ekonomi. Tetapi sering pula kebijakn-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak disambut baik oleh masyarakat. Alasannya adalah karena kebijakan tersebut dinilai tidak pro-rakyat.
Sekarang ini sedang trend aksi-aksi demo yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Mereka ingin mengaspirasikan pikiran mereka agar kebijakan pemerintah dapat mengurangi beban rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, aksi-aksi demo sering diikuti dengan aksi pengrusakan fasilitas umum dan menimbulkan kerusukan yang tak jarang memakan korban.
Pemberitaan tentang aksi demo yang anarkis tersebut sudah bukan hal tabu dan aneh lagi di kalangan masyarakat bahkan anak-anak di bawah umur seperti anak SD. Media cetak dan elektronik berperan aktif dalam hal ini. Namun, muncul persoalan baru yang imbasnya baru akan dirasakan beberapa tahun ke depan. Apa yang terjadi jika anak-anak di bawah umur, khususnya anak SD, melihat aksi anarkis seperti yang ada di media? Anak-anak SD itu hanya tahu bahwa orang itu demo dan merusak. Mereka belum bisa memilah apa tujuan dan mengapa orang-orang melakukan aksi demo. Jika anak-anak SD ini tetap dibiarkan tahu dan menonton berita tentang hal-hal seperti itu tanpa filter dan pengarahan maka apa yang akan terjadi dengan generasi muda ini yang akan menggantikan kendali bangsa. Maka dari itu, di sinilah peran orang tua, guru, masyarakat dan media dalam menanamkan toleransi dan demokrasi kepada anak.

B.       Rumusan Masalah
1.    Seberapa penting menanamkan sikap demokratis bagi anak SD?
2.    Bagaimana peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membentuk karakter anak SD yang mempunyai sikap toleransi dan demokratis?
3.    Bagaimana cara menumbuhkan mental demokratis bagi anak SD melalui pembelajaran?

C.      Tujuan
1.      Mengetahui pentingnya menanamkan sikap demokratis kepada anak SD.
2.      Mengetahui peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membentuk karakter anak SD yang mempunyai sikap toleransi dan demokratis.
3.      Mengetahui sehingga dapat mengaplikasikan cara menumbuhkan mental demokratis bagi anak SD melalui pembelajaran.






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Demokratis
Secara etimologis demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang artinya rakyat dan kratos / kratein yang artinya kekuasaan atau berkuasa. Jadi, demokrasi adalah kekuasaan ada di tangan rakyat atau lebih dikenal dengan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi secara harafiah merupakan sistem pemerintahan yang sangat terbuka kepada arus akuntabilitas publik. Dimana inti dari pemerintahan yang demokratis adalah pada partisipasi seluruh entitas sistem terhadap setiap putusan dan kebijakan yang diambil.
Menurut Sidney Hook demokrasi adalah bentuk pemerinahan dimana keputusan-keputusan pemerintah yang penting. Secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebar dari rakyat dewasa.
Menurut Phillipe C Schmitter demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah dimintai pertanggungjawaban atas tindakna-tindakannya di wilayah publik oleh warga negara yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang terpilih.
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa demokrasi adalah suatu sistem dimana rakyat memiliki kuasa untuk menentukan kebijkan tetapi dalam mekanismenya diaspirasikan oleh wakil-wakil yang duduk di pemerintahan. Demokratis sendiri merupakan sikap demokrasi yang dimiliki setiap individu yang melakukan demokrasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia demokratis adalah sesuatu yang bersifat demokrasi.
Demokrasi diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Dari hal paling sederhana, seperti pemilihan ketua kelas, sudah menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Di masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari demokrasi. Setiap kehidupan yang menyangkut orang banyak dengan kepentingan dan kebutuhan yang beragam pasti menggunakan sikap demokrasi atau demokratis agar tidak terjadi bentrok antar kepentingan. Bentuk demokrasi yang biasa dilakukan adalah musyawarah mufakat atau dengan pengambilan suara terbanyak (voting). Untuk menentukan suatu pilihan atau kebijakan yang menyangkut hajat hidup banyak orang terlebih mengenai kebutuhan-kebutuhan pokok diperlukan musyawarah agar semua aspirasi tertampung dengan baik dan dapat didiskusikan baik buruknya oleh kelompok yang pro atau kontra dengan masalah tersebut. Musyawarah diharapkan dapat merangkul semua kepentingan dan pemikiran tanpa merugikan beberapa kelompok karena kontra dengan masalah yang didiskusikan. Demokrasi dengan musyawarah juga menuntut setia individu untuk menekan ego nya sehingga didapat keputusan yang paling tepat dan bijaksana. Namun, bila jalan musyawarah sulit untuk mendapat kata mufakat maka jalan yang paling tepat adalah dengan mengambil suara terbanyak atau voting. Konsekuensi dari voting adalah setiap keputusan yang sudha dipilih harus diterima dan dilaksanakan dengan sepenuh hati oleh para anggota dan sasaran kebijakan.
Banyak kasus yang belakangan ini membuat prihatin masyarakat, pimpinan dan bangsa Indonesia pada umumnya, dimana praktik demokrasi di negeri ini dipertanyakan eksistensi dan keabsolutannya. Pelaksanaan demokrasi telah diatur dalam undang-undang dan merupakan salah satu dasar dalam pelaksanaan kehidupan bernegara.
Namun, melihat kenyataan pada saat ini perlu ditinjau kembali dimana letak cacat sistem demokrasi. Banyaknya contoh buruk tentang praktik demokrasi memberi gambaran buruk kepada anak-anak yang nantinya akan memegang kendali negeri.

B.       Peran PKn dalam Menanamkan Sikap Demokratis
Di setiap jenjang pendidikan dari SD sampai SMA mata pelajaran PKn atau Pendidikan Kewarganegaraan selalu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Pemerintah mewajibkan PKn menjadi bahan ajar bukan tanpa alasan karena PKn bukan hanya sekadar mata pelajaran yang mempelajari tentang kehidupan berbangsa dan bernegara secara kontekstual tetapi juga bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar didapat insan-insan yang berkarakter Pancasila.
Dalam lampiran pemendiknas No. 22 Tahun 2006 dikemukakan bahwa ”Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education)  merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang mempu memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Indonesia yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945”. Konfigurasi atau kerangka sistemik PKn dibangun atas dasar paradigma sebagaai berikut; pertama PKn secara kulikuler dirancang sebagai subyek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia yang berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab. Dalam mengembangkan potensi individu yang berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab, pembelajaran dalam PKn harus diberi stimulus yang sesuai dengan perkembangan anak.
 Kedua PKn secara teoritik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi-dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang bersifat  konfluen  atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam konteks subtansi ide, nilai, konsep, dan moral Pancasila. Dimensi kognitif dilihat dari materi pembelajarannya yang berupa pengetahuan tentang kependudukan. Dimensi afektif, PKn dalam pembelajarannya tidak hanya memperhatikan segi materi tapi juga penerapan sikap sehari – hari. Oleh karena itu, PKn diperlukan untuk membentuk sikap yang positif dalam kehidupan sehari – hari. Dalam perkembangan anak usia SD pembentukan sikap sangat diperlukan karena sikap yang ditanam pada anak usia SD pasti akan muncul dikemudian hari. Hal ini sangat diperlukan terutama untuk zaman yang sekarang ini, zaman dimana segala informasi dapat diakses dengan mudah, sehingga dikhawatirkan filter anak SD kurang mampu menghadapi gempuran opini dan ideologi yang mengancam pemikiran mereka. PKn disini berperan untuk mendidik anak berjiwa demokrasi yang berlandaskan pada Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
 Ketiga, PKn secara pragramatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan pengalaman belajar (learning experiences) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang diajarkan dalam PKn tidak hanya sekadar dilafalkan tetapi harus ada implementasi dalam kehidupan. Melalui pengalaman belajar yang dapat membekas didalam jiwa anak sehingga nilai tersebut merasuk dalam individu. Pembelajaran tentang sikap demokrasi juga demikian, harus dipraktikkan secara kontinue agar terpetri rasa tolenrasi antarmanusia.
Sedangkan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan secara umum bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan:
1.         Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegraan.
2.         Berpatisipasi secara mutu dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3.         Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa lain.
4.         Berinteraksi dengan bangsa lain dalam dunia percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Pusat Kurikulum, 2003:3).
Dalam tujuan PKn di atas jelas bahwa sikap demokratis sangat dibutuhkan untuk menuju bangsa yang lebih maju. PKn mengajarkan siswa untuk dapat berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegraan, dimana siswa diajari untuk dapar memfilter segala macam informasi agar tidak mudah termakan hasut yang bisa memecah belah bangsa.
Tujuan nomor 2 juga mengarah pada eksistensi atau sumbangan kita sebagai warga negara demi kepentingan umum yang jelas juga menerapkan sikap demokratis karena kemajemukan Indonesia akan terpecah belah jika bangsanya tidak saling menghargai perbedaan dan menerimnya dengan sikap positif.
Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa lain artinya PKn membentuk karakter, khususnya anak SD, agar dapat masuk dalam percaturan dunia internasional tanpa terpengaruh oleh budaya atau hal-hal negatif yang tidak mencerminkan bangsa Indonesia.
Dalam kehidupan bermasyarakat manusia selalu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perbedaan dan keanekaragaman pemikiran dari manusia lain. Sikap demokratis mutlak diperlukan mengingat manusia adalah makhluk monopluralis. Melalui pembelajaran PKn diharapkan penanaman sikap demokratis dapat tecermin dalam kehidupan, baik itu berupa kontekstual dalam kenegaraan maupun aplikatif di masyarakat langsung. Jika kita analisis lebih cermat dan mendalam, pendidikan yang ada dalam mata pelajaran PKn, terdapat pendidikan nilai dimensi pedagogis praktis yang jauh lebih kompleks daripada dimensi teoritisnya karena terkait pada konteks sosial-kutural dimana pendidikan nilai tersebut dilaksanakan.

C.      Karakteristik Anak Usia SD
Masa usia sekolah dasar sering disebut masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada umumnya anak masuk sekolah dasar berumur enam atau tujuh tahun. Usia 6 atau 7 tahun sampai 9atau 10 tahun merupakan masa-masa kelas rendah, yaitu kelas 1, 2 dan 3. Ciri-ciri anak masa usia kelas rendah:
1.    Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
2.    Suka memuji diri sendiri
3.    Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan tersebut dianggapnya tidak penting
4.    Suka membandingkan dirinya dengan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya
5.    Suka meremehkan orang lain.
Sedangkan umur 9 atau 10 sampai 12 atau 13 tahun merupakan masa-masa kelas tinggi, kelas 4, 5 dan 6. Pada usia tersebut anak-anak mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1.      Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari
2.      Ingin tahu, ingin belajar dan realistis
3.      Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
4.      Anak memandang nilai sebagai ukuran tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah
5.      Anak suka membentuk kelompok sebaya (peer group).
Perkembangan intelektual meliputi beberapa aspek perkembangan intelektual. Pertama aspek kognitif, aspek kognitif pada anak usia SD menurut Piaget dalam Mulyani Sumantri dan Nana Syaodih (2011:2.12) termasuk dalam tahap operasi kongret (concrete operation). Pada tahap ini anak telah dapat berpikir logis terhadap segala sesuatu, memahami konsep percakapan, mengorganisasikan objek ke dalam klasifikasi, mampu mengingat dan memecahkan masalah yang bersifat kongret. Kedua, aspek operasional. Anak-anak mampu menggunakan symbol-simbol, melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan aktivitas jasmani yang merupakan dasar untuk mulai berpikir dalam aktivitasnya. Pada tahap ini pula anak dapat membedakan antara kenyataan dengan hal-hak yang bersifat fantasi. Karena pada tahap ini, anak-anak berkurang sifat egoisnya dan anak-anak pada tahap operasional kongret lebih bersifat kritis mereka lebih banyak mempertimbangkan suatu situasi daripada hanya memfokuskan pada suatu aspek. Ketiga, dari aspek konservasi. Konservasi merupakan salah satu yang penting yang dapat mengembangkan berbagai operasi pada tahap kongret. Pada usia 6 atau 7 tahun anak dapat mengkonservasi substansi, pada usia 9 atau 10 tahun mampu mengkonservasi berat, usia 11 atau 12 tahun dapat mengkonservasi volume.
Selain perkembangan kognitif juga perlu di tinjau dari perkembangan psikologi. Perkembangan psikologi meliputi aspek moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah mengembangkan ketrampilan berpikir, bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Daya konsentrasi anak mulai meningkat tertama pada SD kelas tinggi. Mulai kemandirian, bekerja sama dengan orang lain, dan bertindak sesuai dengan lingkungan mereka. Pada anak usia SD, perkembangan moral dan sikap mereka sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Tahap yang dialami oleh anak usia SD menurut George Herbert Mead adalah dalam tahap meniru (play stage) dimana pada tahap ini anak banyak meniru tindakan orang-orang disekitarnya (imitation).
Didalam perkembangannya, anak pada usia enam sampai dua belas tahun memiliki tugas-tugas pengembangan. Menurut Prof. DR. Djawad Dahlan (2004:69) tugas perkembangan anak usia enam sampai dua belas tahun diantaranya;
1.      Belajar memperoleh ketrampilan fisik untuk melakukan permainan
2.      Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sebagai maakhluk biologis
3.      Belajar bergaul dengan teman sebayanya
4.      Belajar bermain peran sesuai dengan jenis kelaminnya
5.      Belajar kemampuan dasar yaitu membaca, menulis, dan berhitung
6.      Belajar mengembangkan konsep sehari-hari
7.      Mengembangkan kata hati
8.      Belajar memperolah kebebasan yang bersifat pribadi
9.      Mengembangkan sikap positif terhadap kelompok sosial atau lembaga-lembaga.
Dilihat dari tugas perkembangan diatas dapat diketahui karakteristik anak pada usia sekolah dasar. Anak – anak pada usia SD merupakan tahapan awal dalam belajar sesuatu yang dasar, baik belajar dari aspek kognitif maupun aspek moral.

D.      Penanaman Sikap Demokratis pada Anak SD
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa sikap demokratis sangat penting bagi manusia dan harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Penanaman dan pengenalan sikap demokratis tepat dilakukan kepada anak SD mengingat pada usia tersebut mereka memasuki fase keserasian sekolah dan lebih mudah membentuk karakter dan memasukkan ideologi yang sifatnya positif kepada anak SD.
Penanaman sikap demokratis  disesuaikan dengan karakter anak yang dididik, dalam konteks ini adalah anak usia SD. Secara umum karakteristik pembelajaran anak di Sekolah Dasar adalah:
1.         Kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar berorientasi pada pembelajaran fakta, lebih bersifat kongret atau kejadian-kejadian yang ada di sekitar lingkungan siswa. Seperti pemberian contoh tentang sikap demokratis sederhan misalnya dalam pemilihanketua kelas, harus memilih yang bisa bertanggung jawab dan semua anggota kelas harus setuju dan apabila tidak setuju maka akan dilakukan musyawarah lebih lanjut.
2.         Kelas 3 siswa sudah dihadapakan pada konsep generalisasi yang dapat diperoleh dari fakta atau kejadian-kejadian yang kongret, hal ini lebih tinggi dari kelas 1 dan 2. Seperti siswa sudah dapat memberikan contoh  sikap-sikap yang mencermikan demokrasi di segala aspek kehidupan.
3.         Kelas 4, 5 dan 6 atau disebut dengan kelas tinggi siswa dihadapkan pada konsep-konsep atau prinsip-prinsip penerapannya. Pada tingkat usia ini, siswa sudah dapat diberikan konsep-konsep nasionalime yang sudah lumayan tinggi dan menerapkannya dalam kehidupan mereka. Siswa sudah dapat membedakan mana sikap yang baik maupun buruk.
Kebutuhan anak SD yang suka bergerak menuntut proses pembelajaran yang dikembangkan secara interaktif. Dalam hal ini guru memegang peranan penting dalam menciptakan stimulus-respon agar siswa menyadari kejadian di sekitarnya. Agar penanaman sika demokratis pada anak melekat dengan kuat, seorang guru harus bisa memberikan pengalaman belajar tentang demokrasi.
Usia anak SD juga suka bekerja dalam kelompok-kelompok teman sebayanya. Penerapannya seperti diskusi dalam pemecahan masalahan. Hal ini bisa dilakukan ketika pelajaran PKn diskusi tentang suatu permasalahan yang menuntut mereka untuk saling bertukar pikiran dan pendapat sampai dicapai suatu keputusan bersama hasil pemikiran semua anggota kelompok.
Selain itu anak SD juga senang merasakan suatu hal secara langsung. Mereka bisa diajari atau bermain peran dalam suatu diskusi dimana ada yang menjadi ketua, sekretaris dan bagian-bagian lain sehingga atmosfer diskusi mancari kata mufakat benar-benar dirasakan anak SD.
Dalam kurikulum telah dirancang standar kompetensi tentang sikap demokratis sejak kelas 2 dan di dalamnya termasuk musyawarah mufakat, menghargai suara mayoritas dan menampilkan sikap mau mengakui kekalahan. Dalam pembelajaran dan penanaman nilai tersebut sebenarnya tidak hanya cukup dalam suasana belajar tetapi bisa juga dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun saat mereka bermain dengan teman sebaya. PKn sebagai jembatan agar sikap demokrasi tetap terarah sebagai bagian dari pencapaian tujuan nasional.












BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.    Penanaman sikap demokrasi sangat penting bagi anak SD mengingat banyak praktik demokrasi di sekitar kita.
2.    Pendidikan Kewarganegaraan dapat menjembatani penerapan demokratis yang tepat dan sesuai dengan ketentuan yang ada.
3.    Cara menumbuhkan mental demokratis bagi anak SD adalah dengan menyesuaikan aplikasi kehidupan dengan usia dan dunia anak SD.
B.       Saran
1.    Perlu ada metode yang lebih sederhana dan menyenagkan agar anak SD tahu tentang mekanisme demokrasi yang sering menuai kontroversi.
2.    Guru harus berperan aktif sebagai fasilitator agar anak dapat belajar dengan aktif dan kontributif sebagai salah satu penerapan sikap demokratis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar